--> Skip to main content

Amalan nisfu Sya'ban dan 4 peristiwa di bulan Sya'ban


amalan nisfu Sya'ban dan peristiwa di bulan Sya'ban
gambar,  perkarahati. com

Amalan nisfu Sya'ban dan 4 peristiwa di bulan Sya'ban 

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
       Alhamdulillah segala puji hanya kepada Allah SWT yang berkat rahmat Nya kita masih diberi kesempatan dan umur panjang sampai hari ini di bulan Sya'ban dan semoga kita pun bisa merasakan nikmat nya ibadah puasa di bulan Ramadhan  nanti. Tulisan kali ini akan membahas tentang sejarah Rosulullah SAW dan para sahabat dan amalan sunnah yang Rosulullah biasa amalkan di bulan Sya'ban.
Lihat juga :

Peristiwa penting yang terjadi di bulan Sya'ban

      Bulan Sya'ban adalah bulan kedelapan dalam tarikh Hijriyah. Pada bulan Sya'ban umat Islam biasanya sudah mengadakan persiapan untuk menyambut bulan suci Romadhon terutama dari sejak nisfu Sya'ban sampai hari terakhir di bulan Sya'ban.  Pada bulan Sya'ban banyak terjadi peristiwa penting yang terjadi di masa Rosulullah SAW diantaranya :

1.Perubahan arah Kiblat di bulan Sya'ban

     Pada permulaan turunnya perintah kewajiban sholat 5 waktu yaitu setelah peristiwa Isro Mi'raj, Rosulullah SAW  dan kaum muslimin menjadikan baitul maqdis sebagai arah kiblat. Hal tersebut berlangsung lebih dari satu tahun, meskipun tidak sepenuhnya berkiblat ke baitul maqdis karena ada Masjidilharom yang berada di tengah antara beliau dan baitul maqdis. Tapi setelah beliau dan para sahabat hijrah ke Madinah, beliau sangat ingin mengubah arah kiblat dengan alasan perkataan orang orang Yahudi di Madinah yang mengatakan bahwa Nabi Muhammad SAW meniru Yahudi dalam beribadah karena umat Yahudi sejak dulu sudah menjadikan baitul maqdis sebagai arah kiblatnya. Akhirnya pada bulan Sya'ban turun perintah Allah SWT kepada Rosulullah SAW agar mengubah arah kiblat menuju ke arah Masjidil harom di Mekkah. Peristiwa ini diabadikan dalam Al Quran
Allah SWT berfirman:

  قَدْ نَرٰى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِى السَّمَآءِ ۚ فَلَـنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضٰٮهَا ۖ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَـرَامِ ۗ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوْا وُجُوْهَكُمْ شَطْرَهٗ ۗ وَاِنَّ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ لَيَـعْلَمُوْنَ اَنَّهُ الْحَـقُّ مِنْ رَّبِّهِمْ ۗ وَمَا اللّٰهُ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُوْنَ  
Artinya  : "Kami melihat wajahmu (Muhammad) sering menengadah ke langit, maka akan Kami palingkan engkau ke kiblat yang engkau senangi. Maka hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidilharam. Dan di mana saja engkau berada, hadapkanlah wajahmu ke arah itu. Dan sesungguhnya orang-orang yang diberi Kitab (Taurat dan Injil) tahu, bahwa (pemindahan kiblat) itu adalah kebenaran dari Tuhan mereka. Dan Allah tidak lengah terhadap apa yang mereka kerjakan." (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 144)

     Dan sejak saat itu seluruh kaum muslimin bila mengerjakan ibadah sholat fardhu atau sholat sunnah selalu menghadap kiblatnya ke arah Masjidil harom.

2. Di bulan Sya'ban diangkatnya Amal Manusia 

     Selanjutnya adalah bahwa di bulan Sya'ban Allah SWT akan mengangkat segala amal manusia baik atau buruk.  Oleh karena itu maka sebaiknya di bulan ini kita lebih memperbanyak membaca istighfar mohon ampun kepada Allah dari perbuatan dosa yang telah dikerjakan serta menyempurnakan ibadah ibadah fardhu dengan memperdalam lagi pengetahuan ajaran Islam dari Al Quran dan hadits dan dari penyampaian ulama dan para ustadz.  Tidak lupa juga menambah amalan sunat seperti puasa,  sholat sunnah dan lainnya seperti yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW dalam hadits berikut

  أَخْبَرَنَا عَمْرُو بْنُ عَلِيٍّ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ قَالَ حَدَّثَنَا ثَابِتُ بْنُ قَيْسٍ أَبُو الْغُصْنِ شَيْخٌ مِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ قَالَ حَدَّثَنِي أَبُو سَعِيدٍ الْمَقْبُرِيُّ قَالَ حَدَّثَنِي أُسَامَةُ بْنُ زَيْدٍ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ لَمْ أَرَكَ تَصُومُ شَهْرًا مِنْ الشُّهُورِ مَا تَصُومُ مِنْ شَعْبَانَ قَالَ ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ   
Artinya  : "Telah mengabarkan kepada kami 'Amr bin 'Ali dari 'Abdurrahman dia berkata; telah menceritakan kepada kami Tsabit bin Qais Abu Al Ghushn - seorang syaikh dari penduduk Madinah - dia berkata; telah menceritakan kepadaku Abu Sa'id Al Maqburi dia berkata; telah menceritakan kepadaku Usamah bin Zaid dia berkata; Aku bertanya; "Wahai Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, aku tidak pernah melihat engkau berpuasa dalam satu bulan sebagaimana engkau berpuasa di bulan Sya'ban?" Beliau bersabda: "Itulah bulan yang manusia lalai darinya; -ia bulan yang berada- di antara bulan Rajab dan Ramadhan, yaitu bulan yang disana berisikan berbagai amal, perbuatan diangkat kepada Rabb semesta alam, aku senang amalku diangkat ketika aku sedang berpuasa." (HR. Nasa'i)

3. Malam nisfu Sya'ban dan keistimewaannya dan amalan yang dianjurkan

     Nisfu  /  نصف artinya setengah atau pertengahan.  Jadi malam nisfu Sya'ban adalah malam pada pertengahan bulan Sya'ban yaitu pada tanggal ke 15 di bulan Sya'ban.  Malam nisfu Sya'ban merupakan salah satu diantara malam yang mempunyai derajat istimewa seperti halnya malam lailatul qodar di bulan Romadhon.  Karena pada malam ini Allah SWT berfirman akan mengabulkan setiap permohonan hamba Nya seperti yang diterangkan dalam hadits berikut

  حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ الْخَلَّالُ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَنْبَأَنَا ابْنُ أَبِي سَبْرَةَ عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ مُحَمَّدٍ عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ جَعْفَرٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانَتْ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَقُومُوا لَيْلَهَا وَصُومُوا نَهَارَهَا فَإِنَّ اللَّهَ يَنْزِلُ فِيهَا لِغُرُوبِ الشَّمْسِ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا فَيَقُولُ أَلَا مِنْ مُسْتَغْفِرٍ لِي فَأَغْفِرَ لَهُ أَلَا مُسْتَرْزِقٌ فَأَرْزُقَهُ أَلَا مُبْتَلًى فَأُعَافِيَهُ أَلَا كَذَا أَلَا كَذَا حَتَّى يَطْلُعَ الْفَجْرُ   
Artinya  : "Telah menceritakan kepada kami Al Hasan bin Ali Al Khallal berkata, telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq berkata, telah memberitakan kepada kami Ibnu Abu Sabrah dari Ibrahim bin Muhammad dari Mu'awiyah bin Abdullah bin Ja'far dari Bapaknya dari Ali bin Abu Thalib ia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Apabila malam nisfu Sya'ban (pertengahan bulan Sya'ban), maka shalatlah di malam harinya dan berpuasalah di siang harinya. Sesungguhnya Allah turun ke langit bumi pada saat itu ketika matahari terbenam, kemudian Dia berfirman: "Adakah orang yang meminta ampun kepada-Ku, maka Aku akan mengampuninya? Adakah orang yang meminta rizki maka Aku akan memberinya rizki? Adakah orang yang mendapat cobaan maka Aku akan menyembuhkannya? Adakah yang begini, dan adakah yang begini…hingga terbit fajar. " (HR. Ibnu Majah) 
     Mungkin sudah menjadi kebiasaan yang baik bagi muslimin di Indonesia bila tiba malam nisfu Sya'ban selalu berkumpul di masjid kemudian bersama sama membaca surat Yasin,  dzikir kepada Allah,  membaca sholawat untuk Rosulullah,  tausiyah dan berdoa memohon ampunan Allah,  memohon kemudahan rizki dan memohon perlindungan Allah SWT.

4. Memperbanyak puasa sunnah

     Semasa hidupnya bila memasuki bulan Sya'ban Rosulullah SAW selalu melaksanakan ibadah puasa sunnah hampir satu bulan penuh  Hal ini beliau lakukan mengingat keistimewaan bulan Sya'ban serta kebahagiaan nya dalam rangka menyambut bulan Romadhon

  حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِيٍّ عَنْ سُفْيَانَ عَنْ مَنْصُورٍ عَنْ سَالِمِ بْنِ أَبِي الْجَعْدِ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ قَالَتْ مَا رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ إِلَّا شَعْبَانَ وَرَمَضَانَ وَفِي الْبَاب عَنْ عَائِشَةَ قَالَ أَبُو عِيسَى حَدِيثُ أُمِّ سَلَمَةَ حَدِيثٌ حَسَنٌ وَقَدْ رُوِيَ هَذَا الْحَدِيثُ أَيْضًا عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ عَائِشَةَ أَنَّهَا قَالَتْ مَا رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي شَهْرٍ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ كَانَ يَصُومُهُ إِلَّا قَلِيلًا بَلْ كَانَ يَصُومُهُ كُلَّهُ حَدَّثَنَا هَنَّادٌ حَدَّثَنَا عَبْدَةُ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرٍو حَدَّثَنَا أَبُو سَلَمَةَ عَنْ عَائِشَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِذَلِكَ وَرُوِيَ عَنْ ابْنِ الْمُبَارَكِ أَنَّهُ قَالَ فِي هَذَا الْحَدِيثِ قَالَ هُوَ جَائِزٌ فِي كَلَامِ الْعَرَبِ إِذَا صَامَ أَكْثَرَ الشَّهْرِ أَنْ يُقَالَ صَامَ الشَّهْرَ كُلَّهُ وَيُقَالُ قَامَ فُلَانٌ لَيْلَهُ أَجْمَعَ وَلَعَلَّهُ تَعَشَّى وَاشْتَغَلَ بِبَعْضِ أَمْرِهِ كَأَنَّ ابْنَ الْمُبَارَكِ قَدْ رَأَى كِلَا الْحَدِيثَيْنِ مُتَّفِقَيْنِ يَقُولُ إِنَّمَا مَعْنَى هَذَا الْحَدِيثِ أَنَّهُ كَانَ يَصُومُ أَكْثَرَ الشَّهْرِ قَالَ أَبُو عِيسَى وَقَدْ رَوَى سَالِمٌ أَبُو النَّضْرِ وَغَيْرُ وَاحِدٍ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ عَائِشَةَ نَحْوَ رِوَايَةِ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرٍو   
Artinya  : "Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basysyar telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Mahdi dari Sufyan dari Manshur dari Salim bin Abu Al Ja'd dari Abu Salamah dari Ummu Salamah dia berkata, saya tidak pernah melihat Nabi Shalallahu 'alaihi wa salam berpuasa dua bulan berturut-turut kecuali pada bulan Sya'ban dan Ramadhan. Dalam bab ini (ada juga riwayat -pent) dari 'Aisyah. Abu 'Isa berkata, hadits Ummu Salamah merupakan hadits hasan. Hadits ini telah diriwayatkan dari Abu Salamah dari 'Aisyah bahwa dia berkata, saya tidak pernah melihat Nabi Shallallaahu 'alaihi wasallam lebih banyak berpuasa kecuali pada bulan Sya'ban, beliau dulu sering berpuasa pada bulan Sya'ban kecuali beberapa hari saja bahkan beliau sering berpuasa sebulan penuh. Telah menceritakan kepada kami Hannad telah menceritakan kepada kami 'Abdah dari Muhammad bin Amru telah menceritakan kepada kami Abu Salamah dari 'Aisyah dari Nabi Shallallaahu 'alaihi wasallam seperti diatas. Dan diriwayatkan dari Ibnu Mubara bahwasanya dia berkata, menurut kaedah bahasa arab, hukumnya boleh mengungkapkan puasa sebulan kurang dengan ungkapan puasa sebulan penuh, sebagaimana dikatakan fulan terjaga sepanjang malam (beraktifitas terus) padahal dia hanya makan malam dan melakukan beberapa urusan. Berdasarkan pernyataan tadi, sepertinya Ibnu Mubarak melihat dua hadits diatas memiliki korelasi arti yang sama, dia berkata, sesungguhnya makna hadits diatas ialah Nabi Shallallaahu 'alaihi wasallam lebih banyak berpuasa pada bulan Sya'ban. Abu 'Isa berkata, Salim Abu Nadlr dan yang lainnya telah meriwayatkan hadits ini dari Abu Salamah dari 'Aisyah seperti riwayatnya Muhammad bin Amru. (HR. Tirmidzi)

5. Turun Ayat Shalawat Nabi di bulan Sya'ban

      Nabi Muhammad SAW adalah sosok manusia mulia yang mempunyai derajat yang tinggi di sisi Allah serta Malaikat.  Beliau memiliki sifat penyayang kepada sesama manusia,  kepada hewan bahkan kepada tumbuhan.  Beliau juga memiliki sifat Shidiq  ( benar,  tidak pernah berdusta),  Amanah  ( dipercaya,  tidak pernah mengingkari amanat atau janji),  Tabligh  ( menyampaikan apapun pengetahuan dari Allah) dan Fathonah ( pintar selalu memberikan keputusan terbaik).  Sebagaimana firman Allah SWT dalam Al Qur'an
Allah SWT berfirman:

  اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰٓئِكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ ۗ يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا  
Artinya  : "Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya." (QS. Al-Ahzab 33: Ayat 56)
     Ayat tersebut turun di bulan Sya'ban sebagai penghormatan Allah untuk Nabi Muhammad karena kemuliaan beliau dan ketakwaan beliau terutama di bulan Sya'ban.
      Demikianlah ulasan mengenai bulan Sya'ban salah satu bulan yang memiliki keistimewaan keistimewaan didalamnya.  Marilah kita menambah dan memperbanyak amal ibadah yang diperintahkan Allah serta dicontohkan Rosulullah pada bulan ini agar kita menjadi orang yang bertakwa dan memperoleh kebaikan hidup di dunia dan akhirat.  Semoga bermanfaat.  W assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar