--> Skip to main content

√4 Waktu mustajab do'a kepada Allah agar permohonan terkabul

√4 Waktu mustajab do'a kepada Allah agar permohonan terkabul


waktu mustajab untuk berdo'a
gambar pinterest
       Do'a ' الدعاء ' yaitu ucapan atau permohonan seorang hamba kepada Allah SWT.  Manusia tidak bisa lepas dari kebutuhan serta keinginan.  Misalnya ingin mendapatkan pekerjaan dhan gaji besar,  ingin menikah,  ingin memiliki rumah,  kendaraan,  ingin mempunyai anak yang soleh/ solehah, ingin sembuh dari penyakit, ingin beribadah haji atau umroh dan sebagainya. Hal tersebut sangatlah wajar karena selama manusia masih hidup akan banyak kebutuhan untuk menunjang kehidupannya. Hanya manusia yang sudah wafat yang terlepas dari kebutuhan duniawi tersebut.
Allah SWT berfirman:

  وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُوْنِيْۤ اَسْتَجِبْ لَـكُمْ ۗ اِنَّ الَّذِيْنَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَادَتِيْ سَيَدْخُلُوْنَ جَهَنَّمَ دَاخِرِيْنَ٪ 

"(Dan Rabb kalian berfirman, Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagi kalian) maksudnya, sembahlah Aku, niscaya Aku akan memberi pahala kepada kalian. Pengertian ini disimpulkan dari ayat selanjutnya, yaitu, (Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk) dapat dibaca Sayadkhuluuna atau Sayudkhaluuna, menurut bacaan yang kedua artinya, mereka akan dimasukkan ke dalam (neraka Jahanam dalam keadaan hina dina) dalam keadaan terhina." (QS. Ghafir 40: Ayat 60)

      Untuk memenuhi kebutuhannya maka manusia diharuskan untuk berikhtiar dan berdo'a.  Misalnya orang yang sedang sakit,  maka bila ingin sembuh dia harus berikhtiar dengan cara berobat ke dokter juga disertai memohon kepada Allah agar menyembuhkan penyakit.  Karena hanya Allah lah yang berkuasa dan Maha Penyembuh. Dalam berdo'a kita diperbolehkan memohon apa saja dengan syarat permintaan tersebut untuk hal-hal yang baik bukan untuk hal-hal yang buruk atau menjahati orang lain.  Didalam hadits Rosulullah SAW memberikan anjuran mengenai berdo'a,  waktu mustajab do'a dan tempat terbaik saat berdo'a.
Baca juga

Waktu mustajab do'a yang dianjurkan oleh Nabi

     Berdasarkan hadits Nabi,  maka waktu mustajab untuk berdo'a sebagai berikut

 1. Berdo'a di waktu sepertiga malam

     Sebenarnya kita bisa memohon kepada Allah ( do'a)  kapan saja.  Tapi terkadang kita mempunyai permainan yang bersifat khusus dan ingin agar apa yang kita inginkan tersebut segera terkabul.  Karena itu Rosulullah SAW memberitahukan tentang waktu yang mustajab do'a yaitu di sepertiga malam atau sahur sesuai hadits berikut ini

 حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مُصْعَبٍ حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ عَنْ عَطِيَّةَ عَنْ عَمْرِو بْنِ عَبَسَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ صَلَاةُ اللَّيْلِ مَثْنَى وَجَوْفُ اللَّيْلِ الْآخِرُ أَوْجَبُهُ دَعْوَةً قَالَ فَقُلْتُ أَوْجَبُهُ قَالَ لَا وَلَكِنْ أَوْجَبُهُ يَعْنِي بِذَلِكَ الْإِجَابَةَ  

Artinya  :" Telah kemenceritakanpada kami Muhammad bin Mush'ab Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr dari 'Athiyyah dari Amru bin 'Abasah bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Shalat malam itu adalah dua raka'at dua raka'at. Sepertiga malam terakhir adalah waktu yang paling mustajab untuk do'a." saya bertanya, "Mungkin maksudnya adalah yang paling wajib?" ia menjawab, "Tidak, akan tetapi yang dimaksudkan awjab adalah diprediksikan doa musti terkabul." (HR. Ahmad)

2. Berdo'a di waktu setelah berbuka puasa

  حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ فُضَيْلٍ عَنْ حَمْزَةَ الزَّيَّاتِ عَنْ زِيَادٍ الطَّائِيِّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا لَنَا إِذَا كُنَّا عِنْدَكَ رَقَّتْ قُلُوبُنَا وَزَهِدْنَا فِي الدُّنْيَا وَكُنَّا مِنْ أَهْلِ الْآخِرَةِ فَإِذَا خَرَجْنَا مِنْ عِنْدِكَ فَآنَسْنَا أَهَالِينَا وَشَمَمْنَا أَوْلَادَنَا أَنْكَرْنَا أَنْفُسَنَا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَوْ أَنَّكُمْ تَكُونُونَ إِذَا خَرَجْتُمْ مِنْ عِنْدِي كُنْتُمْ عَلَى حَالِكُمْ ذَلِكَ لَزَارَتْكُمْ الْمَلَائِكَةُ فِي بُيُوتِكُمْ وَلَوْ لَمْ تُذْنِبُوا لَجَاءَ اللَّهُ بِخَلْقٍ جَدِيدٍ كَيْ يُذْنِبُوا فَيَغْفِرَ لَهُمْ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مِمَّ خُلِقَ الْخَلْقُ قَالَ مِنْ الْمَاءِ قُلْنَا الْجَنَّةُ مَا بِنَاؤُهَا قَالَ لَبِنَةٌ مِنْ فِضَّةٍ وَلَبِنَةٌ مِنْ ذَهَبٍ وَمِلَاطُهَا الْمِسْكُ الْأَذْفَرُ وَحَصْبَاؤُهَا اللُّؤْلُؤُ وَالْيَاقُوتُ وَتُرْبَتُهَا الزَّعْفَرَانُ مَنْ دَخَلَهَا يَنْعَمُ لَا يَبْأَسُ وَيَخْلُدُ لَا يَمُوتُ لَا تَبْلَى ثِيَابُهُمْ وَلَا يَفْنَى شَبَابُهُمْ ثُمَّ قَالَ ثَلَاثَةٌ لَا تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ الْإِمَامُ الْعَادِلُ وَالصَّائِمُ حِينَ يُفْطِرُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ يَرْفَعُهَا فَوْقَ الْغَمَامِ وَتُفَتَّحُ لَهَا أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَيَقُولُ الرَّبُّ عَزَّ وَجَلَّ وَعِزَّتِي لَأَنْصُرَنَّكِ وَلَوْ بَعْدَ حِينٍ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ لَيْسَ إِسْنَادُهُ بِذَاكَ الْقَوِيِّ وَلَيْسَ هُوَ عِنْدِي بِمُتَّصِلٍ وَقَدْ رُوِيَ هَذَا الْحَدِيثُ بِإِسْنَادٍ آخَرَ عَنْ أَبِي مُدِلَّةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم 

Artinya  : "Telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Fudlail dari Hamzah Az Zayyat dari Ziyad Ath Tho`i dari Abu Hurairah berkata: Kami berkata: Wahai Rasulullah, kenapa kami bila berada di dekat baginda, hati kami melunak, kami zuhud di dunia dan kami termasuk ahli akhirat, tapi bila kami bergegas meninggalkan baginda lalu kami bergaul dengan keluargaku, mencium anak-anak kami, kami mengingkari diri kami sendiri (maksudnya agamis seperti semula). Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam bersabda: "Andai kalian bila pergi meninggalkanku berada dalam kondisi kalian seperti itu, niscaya para malaikat mengunjungi kalian di rumah-rumah kalian dan seandainya kalian tidak berbuat dosa, niscaya Allah menciptakan makhluk baru agar mereka berbuat dosa lalu Allah akan mengampuni mereka." Berkata Abu Hurairah: Aku berkata: Wahai Rasulullah, dari apa makhluk diciptakan? Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam menjawab: "Dari air." Kami bertanya: Surga, apa bangunanya? Beliau menjawab: Bata dari perak dan bata dari emas, semennya minyak kesturi yang harum, tanahnya mutiara dan permata, debunya za'faran, barangsiapa memasukinya, ia bersenang-senang dengan tidak jemu, kekal, tidak mati, baju mereka tidak usang, kemudaan mereka tidak lenyap." Setelah itu beliau bersabda: "Tiga orang yang doanya tidak tertolak; imam adil, orang puasa saat berbuka dan doa orang yang terzalimi, doanya diangkat diatas awan dan pintu-pintu langit dibukakan, Rabb 'azza wajalla berfirman: Demi keperkasaanKu, aku akan menolongmu meski setelah selang berapa lama." Berkata Abu Isa: Hadits ini sanadnya tidak kuat dan menurutku tidak tersambung. Hadits ini diriwayatkan dengan sanad lain dari Abu Mudillah dari Abu Hurairah dari nabi Shallallahu 'alaihi wa Salam. (HR. Tirmidzi)

3. Berdo'a di waktu antara adzan dan iqomat

 حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ كَثِيرٍ أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ عَنْ زَيْدٍ الْعَمِّيِّ عَنْ أَبِي إِيَاسٍ
 عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يُرَدُّ الدُّعَاءُ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ  

 " Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Katsir telah mengabarkan kepada kami Sufyan dari Zaid Al-'Ammi dari Abu Iyas dari Anas bin Malik dia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tidak akan tertolak doa antara adzan dan iqamah." (HR. Abu Daud)

4. Berdo'a di waktu sujud dalam sholat

 حَدَّثَنَا عَبْد اللَّهِ حَدَّثَنِي سُوَيْدُ بْنُ سَعِيدٍ سَنَةَ سِتٍّ وَعِشْرِينَ وَمِائَتَيْنِ أَخْبَرَنَا عَلِيُّ بْنُ مُسْهِرٍ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ إِسْحَاقَ عَنِ النُّعْمَانِ بْنِ سَعْدٍ عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ سَأَلَهُ رَجُلٌ آقْرَأُ فِي الرُّكُوعِ وَالسُّجُودِ فَقَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنِّي نُهِيتُ أَنْ أَقْرَأَ فِي الرُّكُوعِ وَالسُّجُودِ فَإِذَا رَكَعْتُمْ فَعَظِّمُوا اللَّهَ وَإِذَا سَجَدْتُمْ فَاجْتَهِدُوا فِي الْمَسْأَلَةِ فَقَمِنٌ أَنْ يُسْتَجَابَ لَكُمْ   

"Telah menceritakan kepada kami Abdullah, telah menceritakan kepadaku Suwaid bin Sa'id tahun dua ratus dua puluh enam, telah mengabarkan kepada kami Ali bin Mushir dari Abdurrahman bin Ishaq telah menceritakan kepada kami An Nu'man bin Sa'd dari Ali radhiyallahu 'anhu, dia berkata; Ada seorang laki-laki yang menanyakan kepadanya; apakah saya boleh membaca al Qur`an dalam ruku' dan sujud." Ali radhiyallahu 'anhu berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sungguh saya melarang membaca al Qur`an dalam ruku' maupun sujud. Jika kalian sedang ruku' maka agungkanlah Allah dan jika kalian sujud, maka bersunguh-sungguhlah dalam meminta karena pada saat itu doa kalian akan dikabulkan."  (HR. Ahmad)

Baca juga hukum membaca sayyidina saat tahiyat
     Dan demikianlah uraian tentang waktu mustajab untuk berdo'a berdasarkan hadits Nabi Muhammad SAW.  Semoga bermanfaat dan semoga setiap do'a untuk kebaikan mendapatkan ijabah dan dikabulkan Allah SWT amiinnn...  Wassalamu alaikum warohmatulohi wabarokatuh.
Baca juga cara mandi junub
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar