Kesamaan AlQuran dan Sains Tentang Pengetahuan Luar Angkasa

Kesamaan AlQuran dan Sains Tentang Pengetahuan Luar Angkasa

Assalamu'alaikum warohmatulohi wabarokatuh. 

Al Quran sebagai firman Tuhan sudah pasti terjamin kebenaran isinya. Didalam Al Qur'an terdapat ayat-ayat yang menceritakan kisah bangsa-bangsa yang hidup di zaman dahulu. Dan juga kisah tentang hal-hal yang akan terjadi di masa yang akan datang atau akhir zaman. Banyak pula ayat yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan (sains), seperti penciptaan manusia, hewan, tumbuhan dan alam semesta. Memang Al Quran diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW di tahun 57l M, waktu peradaban manusia masih sederhana tidak se modern seperti saat ini. Tapi berkat perkembangan ilmu pengetahuan yang pesat, dimana para ilmuwan mempelajari tentang kehidupan di bumi dan luar angkasa. Sedikit demi sedikit kebenaran Al-Quran terungkap oleh sains. Berikut ini adalah fenomena luar angkasa yang diungkapkan oleh sains dan ternyata sudah ada keterangannya di dalam Alquran. Apa sajakah itu? Mari lanjutkan membaca!

Fenomena Luar Angkasa Menurut Al Quran dan Sains
ilustrasi luar angkasa


1. Alquran dan Sains Buktikan Langit Dipenuhi Pintu-Pintu

Langit merupakan salah satu ciptaan Allah Subhanahu wa ta'ala yang luasnya tidak terhingga. Sampai saat ini tidak ada seorang ilmuwan pun yang mengetahui dengan pasti ukuran luas langit. Langit atau jagat raya terdiri dari galaksi-galaksi, planet-planet dan banyak lagi. Namun pernahkah Anda mendengar tentang pintu langit?

Dikutip dari 'Buku Pintar Sains Dalam Alquran Mengerti Mukjizat Ilmiah Firman Allah' karya Dr Nadiah Thayyarah, kitab suci Alquran mengungkapkan bahwa langit dipenuhi pintu-pintu yang tidak terkira jumlahnya. Didalam Alquran Surat Al Hijr ayat 14 Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَلَوْ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَابًا مِّنَ السَّمَآءِ فَظَلُّوْا فِيْهِ يَعْرُجُوْنَ ۙ 

"Dan seandainya Kami membukakan kepada mereka salah satu dari pintu-pintu langit, lalu mereka terus-menerus padanya pada pintu tersebut (dalam keadaan naik) selalu naik."
(QS. Al-Hijr 15: Ayat 14)

Ayat tersebut turun dalam membicarakan sikap keras kepala orang-orang kafir Quraisy, yakni untuk menentang dan mendustakan ajaran-ajaran dan petunjuk-petunjuk yang dibawa Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Terutama saat Rosulullah SAW menyampaikan peristiwa Isro Miraj yang tentang bagaimana beliau saat 'naik' ke langit melewati pintu-pintu. Dimana setiap pintu beliau disambut oleh Nabi-Nabi terdahulu.  

Namun, tentu saja pintu-pintu langit tersebut tidak sama seperti pintu yang ada dirumah kita yang berbahan kayu atau besi. Pintu langit berkorelasi dengan 'Tiang' langit, dimana panca indera manusia tidak bisa menjangkaunya. Karena keterbatasan kemampuan manusia. Kecuali bila Allah SWT memberikan anugrah kepada orang-orang terpilih untuk bisa menjangkau pintu langit tersebut. Misalnya kepada para Nabi, Rosul dan waliyullah. 

Ayat tersebut juga tergolong salah satu mukjizat terbesar di bidang astronomi. Sejak beberapa tahun belakangan ini peneliti membuktikan bahwa langit tidak kosong sebagaimana diyakini para ulama, tetapi dipenuhi materi-materi. Ada materi dalam bentuk gas, seperti hidrogen, helium, dan sedikit oksigen; nitrogen, neon, dan uap air. Ada pula sebagian materi dalam bentuk padat, dan beraneka ragam sinar, seperti sinar inframerah sinar-X, dan sinar gamma.

Semua itu semakin meyakinkan manusia bahwa langit adalah bangunan yang kukuh, dipenuhi materi dan energi, dan tidak mungkin diterobos kecuali dengan membuka pintu-pintunya. Sebagaimana langit yang dipenuhi pintu-pintu kukuh, tingkat teratas dari atmosfer yang membungkus bola Bumi juga dipenuhi pintu-pintu. Oleh sebab itu, jika pesawat antariksa hendak keluar dari atmosfer, ia harus menempuh jalur tertentu dan terbatas.

Guna mencapai itu semua harus melewati sudut dan jalur tertentu agar selamat dari area gravitasi Bumi menuju angkasa bebas. Kalau tidak begitu, pesawat akan terbakar. Sebaliknya, apabila pesawat antariksa ingin kembali dari antariksa ke Bumi, ia harus masuk melalui pintu-pintu dan jalur-jalur tertentu dalam tingkat teratas dari atmosfer. Jika tidak, ia akan tetap berada di luar angkasa atau terbakar.

Pernah hal ini terjadi pada sebuah pesawat antariksa, hampir tidak bisa mengetahui pintu yang harus ia lalui untuk memasuki atmosfer Bumi. Setelah berbagai upaya, pesawat itu akhirnya berhasil menemukan pintu itu dan masuk ke atmosfer Bumi melaluinya.

Roket Luar Angkasa
ilustrasi roket luar angkasa


2. Bentuk Asli Bumi Diterangkan dalam Al Quran dan Dibuktikan oleh Sains

Hingga kini masih saja ada orang yang memperdebatkan bentuk Planet Bumi, padahal sudah jauh sebelumnya kitab suci Alquran menjelaskannya. Bentuk Bumi yang sebenarnya telah disebutkan dalam Alquran Surah Az-Zumar Ayat 5.

Allah SWT berfirman:

خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ بِالْحَقِّ  ۚ يُكَوِّرُ الَّيْلَ عَلَى النَّهَارِ وَيُكَوِّرُ النَّهَارَ عَلَى الَّيْلِ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ ۗ كُلٌّ يَّجْرِيْ لِاَجَلٍ مُّسَمًّى ۗ اَ لَا هُوَ الْعَزِيْزُ الْغَفَّارُ

"(Dia menciptakan langit dan bumi dengan -tujuan- yang benar) lafal Bilhaqqi berta'alluq kepada lafal Khalaqa (Dia menutupkan) yakni memasukkan (malam atas siang) sehingga waktu malam bertambah. (dan menutupkan siang) memasukkannya (atas malam) sehingga waktu siang bertambah (dan Dia menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan) pada garis edarnya (hingga waktu yang ditentukan) yakni hari kiamat. (Ingatlah Dialah Yang Maha Perkasa) Yang Maha Menang atas semua perkara-Nya dan Yang Maha Membalas terhadap musuh-musuh-Nya (lagi Maha Pengampun) kepada kekasih-kekasih-Nya."
(QS. Az-Zumar 39: Ayat 5)

Berdasarkan penjelasan ijma Ibnu Taimiyyah, telah terjadi kesepakatan dari para ulama menafsirkan ayat tersebut bahwa Bumi berbentuk bulat.

"Tidak ada perselisihan di antara para ulama bahwa langit itu seperti bola. Demikian pula mereka telah bersepakat bahwa Bumi ini dengan seluruh pergerakannya baik itu daratan maupun lautan seperti bola," menurut ijma ulama Ibnu Taimiyyah.

Ilmuwan muslim, Al Biruni, menegaskan bahwa Bumi itu berbentuk bulat. Disebutkan bahwa ia telah menuliskan risalah tentang planisphere dan armillary sphere (bola dunia). Dilaporkan pula bahwa pada usia 17, Al Biruni menghitung posisi lintang bujur dari Kath, Khwarizm, dengan metode tinggi matahari. Ia memecahkan persamaan geodesi kompleks untuk menghitung jari-jari Bumi.

Ilmuwan muslim ini juga mendapat angka sekira 6339,9 kilometer, hanya berselisih 16,8 km dari nilai modern yaitu 6356,7 km. Sementara pada usia 22 tahun, Al Biruni sudah menulis sejumlah karya ilmiah, termasuk tentang proyeksi peta, penggunaan sistem koordinat 3D–Cartesian dan transformasinya ke sistem koordinat polar.

Setelah membaca banyak data hasil pengamatannya, Al Biruni meyakini bahwa Bumi ini bulat, berputar pada porosnya sehari satu kali, dan beredar mengelilingi matahari satu tahun sekali. Ini hal yang bertentangan dengan pendapat umum saat itu, namun diyakini Al Biruni paling dekat dengan data-data empiris.

Baca juga Manfaat membaca Ayat Kursi

3. Proses Bumi dan Matahari menyebabkan Adanya Siang dan Malam

Alam semesta diterangi oleh matahari, termasuk cahayanya yang sampai ke Bumi. Menurut sains, perputaran bumi (rotasi) menyebabkan ada bagian bumi yang terkena sinar matahari, wilayah tersebut menjadi terang, dan waktunya disebut siang hari. Sedangkan bagian bumi yang tidak terkena sinar matahari, kondisinya menjadi gelap, dan disebut malam hari. Adapun pergerakan bumi mengelilingi matahari menyebabkan terjadinya pergantian musim (revolusi). Hal ini ternyata sudah jauh dijelaskan dalam kitab suci Alquran. Sebagaimana diungkapkan dalam Surah Fussilat Ayat 37.

Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman: 

وَمِنْ اٰيٰتِهِ الَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ ۗ لَا تَسْجُدُوْا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوْا لِلّٰهِ الَّذِيْ خَلَقَهُنَّ اِنْ كُنْتُمْ اِيَّاهُ تَعْبُدُوْنَ

"(Dan sebagian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari, dan bulan. Janganlah kalian bersujud kepada matahari dan jangan pula kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah Yang menciptakannya) yang telah menciptakan keempat tanda-tanda tersebut (jika kalian hanya kepada-Nya saja menyembah.)"

(QS. Fussilat 41: Ayat 37)

Keteraturan siang dan malam merupakan anugerah kepada seluruh penghuni Bumi dan hal ini telah termaktub dalam Alquran. Allah SWT berfirman:

خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ بِالْحَقِّ  ۚ يُكَوِّرُ الَّيْلَ عَلَى النَّهَارِ وَيُكَوِّرُ النَّهَارَ عَلَى الَّيْلِ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ ۗ كُلٌّ يَّجْرِيْ لِاَجَلٍ مُّسَمًّى ۗ اَ لَا هُوَ الْعَزِيْزُ الْغَفَّارُ

"(Dia menciptakan langit dan bumi dengan -tujuan- yang benar) lafal Bilhaqqi berta'alluq kepada lafal Khalaqa (Dia menutupkan) yakni memasukkan (malam atas siang) sehingga waktu malam bertambah. (dan menutupkan siang) memasukkannya (atas malam) sehingga waktu siang bertambah (dan Dia menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan) pada garis edarnya (hingga waktu yang ditentukan) yakni hari kiamat. (Ingatlah Dialah Yang Maha Perkasa) Yang Maha Menang atas semua perkara-Nya dan Yang Maha Membalas terhadap musuh-musuh-Nya (lagi Maha Pengampun) kepada kekasih-kekasih-Nya."

(QS. Az-Zumar 39: Ayat 5)

4. Atmosfer Melindungi Bumi Beserta Isinya Sudah Dijelaskan dalam Al Quran

Para ilmuwan sains yang meneliti dan mempelajari luar angkasa (astronomo),mengungkapkan bahwa atmosfer langit memiliki peran penting untuk Planet Bumi, yaitu sebagai pelindung dari benda-benda langit lain seperti meteorit dan asteroid. Fungsi penting lainnya, atmosfer menyaring sinar matahari yang masuk ke bumi agar tidak terlalu panas. Bila tidak ada lapisan atmosfer, maka kehidupan di bumi akan punah akibat suhu yang terlalu panas akibat paparan sinar matahari. 

Dalam kitab suci Alquran. Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman dalam Surah An-Anbiya ayat 32:

وَجَعَلْنَا السَّمَآءَ سَقْفًا مَّحْفُوْظًا ۚ وَهُمْ عَنْ اٰيٰتِهَا مُعْرِضُوْنَ

"(Dan Kami menjadikan langit itu sebagai atap) bagi bumi, sebagaimana atap yang menaungi rumah (yang terpelihara) tidak sampai ambruk (sedang mereka dari segala tanda-tanda yang ada padanya) berupa matahari, bulan dan bintang-bintang (berpaling) mereka yakni orang kafir tidak mau memikirkan hal itu hingga mereka mengetahui, bahwa pencipta kesemuanya itu tiada sekutu bagi-Nya."

(QS. Al-Anbiya 21: Ayat 32)

Ternyata, Al Quran telah lebih dulu memberikan pengetahuan kepada manusia tentang adanya lapisan pelindung planet bumi atau atmosfer. Hanya saja, baru di zaman modern ini bisa dijelaskan secara ilmiah, setelah diteliti oleh para ilmuwan. Sehingga hasil penelitian tersebut sama sekali tidak bertentangan dengan kandungan isi ayat Quran sebagai firman Allah SWT. 

5. Alquran dan Sains Ungkap Bulan Pernah Panas seperti Matahari

Sejak di sekolah kita diajarkan bahwa cahaya pada bulan merupakan pantulan dari sinar matahari. Bulan yang tampak pada malam hari tidak memiliki cahaya sendiri. Bulan hanya memantulkan cahaya matahari saja. Namun ternyata dahulu bulan pernah bercahaya seperti matahari. Artinya, bulan menghasilkan cahaya sendiri (menyala). 

Dikutip dari buku 'Sains Dalam Alquran' karya Nadiah Thayyarah, dijelaskan bahwa hasil penelitian para iilmuwan menghasilkan kesimpulan kalau bulan terbentuk sejak 4,6 juta tahun lalu itu, dulunya sangat panas dan memijarkan cahaya yang terang mirip seperti matahari. 

Banyak benda-benda langit seperti asteroid yang menghantam permukaan bulan dan hancur. Dikarenakan suhu bulan saat itu sangat panas, terjadilah peleburan yang sangat dahsyat di permukaan bulan. Dan proses yang terjadi terus menerus selama jutaan tahun tersebut akhirnya menutupi inti panas bulan. Dengan begitu akhirnya bulan menjadi mati, tidak memancarkan cahaya lagi sebagaimana yang kita ketahui sekarang.

Sebelum ilmuwan mengetahui bahwa bulan awalnya pernah bersinar, seperti matahari tapi kemudian mati, Alquran yang diturunkan sekira 14 abad lalu telah mengungkap hal tersebut. Keterangannya dapat diketahui dalam Surah Al Isra Ayat 12 yang berbunyi: 

Allah SWT berfirman:

وَجَعَلْنَا الَّيْلَ وَالنَّهَارَ اٰيَتَيْنِ فَمَحَوْنَاۤ اٰيَةَ الَّيْلِ وَجَعَلْنَاۤ اٰيَةَ النَّهَارِ مُبْصِرَةً لِّتَبْتَغُوْا فَضْلًا مِّنْ رَّبِّكُمْ وَلِتَعْلَمُوْا عَدَدَ السِّنِيْنَ وَالْحِسَابَ ۗ وَكُلَّ شَيْءٍ فَصَّلْنٰهُ تَفْصِيْلًا

"(Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda) yang kedua-duanya menunjukkan kekuasaan Kami (lalu Kami hapuskan tanda malam) Kami tutup cahayanya dengan kegelapan malam hari supaya kalian tenang berada di dalamnya; idhafat di sini menunjukkan makna bayan (dan Kami jadikan tanda siang itu terang) seseorang dapat melihat berkat adanya cahaya (agar kalian mencari) pada siang hari (karunia dari Rabb kalian) dengan berusaha (dan supaya kalian mengetahui) melalui malam dan siang hari itu (bilangan tahun-tahun dan perhitungan) waktu-waktu. (Dan segala sesuatu) yang diperlukan (telah Kami terangkan dengan jelas) artinya Kami telah menjelaskannya secara rinci."

(QS. Al-Isra' 17: Ayat 12)

Ayat tersebut menunjukkan adanya suatu fakta ilmiah yang baru bisa diketahui umat pada abad ke-20, yaitu bahwa bulan pada mulanya adalah sebuah planet yang menyala. Menurut penelitian-penelitian astronomis telah menyinpulkan bahwa bulan terus-menerus menjauh dari Bumi. Mereka mengatakan bahwa bulan yang berjarak 300 ribu kilometer dari Bumi terus menjauh sejauh 3 sentimeter per tahun dari bumi.

Gerakan menjauh ini pada suatu saat nanti akan membawa bulan masuk pada area yang terdampak oleh medan gravitasi matahari. Hal ini akan menyebabkan bulan kelak meledak di permukaan matahari.

Fenomena tersebut benar-benar selaras dengan ayat Alquran yang menyatakan, 

Allah SWT berfirman:

وَجُمِعَ الشَّمْسُ وَالْقَمَرُ ۙ 

"Dan matahari dan bulan dikumpulkan." (QS Al Qiyamah: 9)

Permukaan Bulan
ilustrasi permukaan bulan


6. Fenomena 4 Musim di Bumi telah Dijelaskan dalam Al Quran

Negara dan wilayah-wilayah di planet Bumi memiliki musim yang berbeda-beda. Contohnya di daerah kutub utara yang memiliki hanya satu musim,yaitu musim dingin. Berbeda dengan di wilayah Indonesia yang memiliki 2 musim, yaitu musim hujan dan kemarau. Atau negara di Eropa yang mempunyai empat musim, yaitu musim gugur, musim semi, musim dingin dan musim panas.

Manfaat peralihan musim ini adalah memberikan keseimbangan bagi alam dan kelangsungan kehidupan manusia. Jika hanya ada satu musim saja, maka dapat dipastikan kehidupan manusia akan punah. Contohnya, musim panas saja, maka tanaman akan kering, sehingga menyebabkan manusia kesulitan bahan pangan. Dan manusia akan punah karena kelaparan. 

Adanya empat musim di Bumi ini ternyata telah lebih dulu dibahas dalam kitab suci Alquran. Ulama juga membahas fungsi dari pergantian empat musim ini, salah satunya Ibnu Qoyyim Al Jauziah.

Dijelaskan bahwa saat musim dingin, hawa panas tersimpan di dalam gua-gua, perut Bumi, dan gunung, sedangkan di luar dalam keadaan dingin. Dan tubuh manusia dan hewan-hewan, khususnya alam yang sebelumnya merasa kepanasan bisa menjadi seimbang lagi secara alami saat musim dingin tiba. Tanah yang dulu kering bisa basah lagi dan menumbuhkan tanaman. 

Pada musim semi, tanaman mulai merekah. Pepohonan mulai muncul dengan bunga, sedangkan hewan mulai berkembang biak. Lalu ketika musim panas, udara memuai, tanaman serta buah menjadi sulit tumbuh. Musim panas bisa menjadi menakutkan apabila berlangsung dalam waktu yang begitu lama.

Hal ini sebagaimana firman Allah Subhanahu wa ta'ala dalam Alquran Surah Al A'raf ayat 130.

Allah SWT berfirman:

وَلَقَدْ اَخَذْنَاۤ اٰلَ فِرْعَوْنَ بِالسِّنِيْنَ وَنَقْصٍ مِّنَ الثَّمَرٰتِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُوْنَ

"(Dan sesungguhnya Kami telah menghukum Firaun dan kaumnya dengan mendatangkan musim kemarau yang panjang) musim paceklik (dan kekurangan buah-buahan supaya mereka mengambil pelajaran) menjadikannya sebagai pelajaran bagi mereka kemudian mereka mau beriman karenanya."

(QS. Al-A'raf 7: Ayat 130)

Berikutnya saat musim gugur tiba, udara mulai berubah menjadi dingin. Suhu panas berangsur lenyap. Allah Subhanahu wa ta'ala menciptakan musim ini dengan hikmah-Nya untuk fase transisi antara musim panas dan dingin. Dengan demikian, binatang tidak mati yang disebabkan perubahan cuaca secara tiba-tiba.

Ketika musim gugur tiba, manusia bisa melihat daun tanaman mulai berwarna kuning dan berguguran untuk menyambut musim berikutnya, yakni musim dingin atau salju

Allah SWT berfirman:

اَلَمْ تَرَ اَنَّ اللّٰهَ اَنْزَلَ مِنَ السَّمَآءِ مَآءً فَسَلَـكَهٗ يَنَابِيْعَ فِى الْاَرْضِ ثُمَّ يُخْرِجُ بِهٖ زَرْعًا مُّخْتَلِفًا اَ لْوَانُهٗ ثُمَّ يَهِيْجُ فَتَـرٰٮهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَجْعَلُهٗ حُطَامًا ۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَذِكْرٰى لِاُولِى الْاَلْبَابِ٪

"(Apakah kamu tidak memperhatikan) maksudnya tidak mengetahui (bahwa sesungguhnya Allah menurunkan air dari langit, maka diatur-Nya menjadi sumber-sumber) yakni, dia memasukkan air itu ke tempat-tempat yang dapat menjadi sumber air (di bumi kemudian ditumbuhkan-Nya dengan air itu tanam-tanaman yang bermacam-macam warnanya, lalu ia menjadi kering) menjadi layu dan kering (lalu kamu melihatnya) sesudah hijau menjadi (kekuning-kuningan kemudian dijadikan-Nya hancur berderai) yakni rontok (Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat pelajaran) peringatan (bagi orang-orang yang mempunyai akal) bagi orang-orang yang mau mengambil pelajaran darinya untuk menyimpulkan keesaan dan kekuasaan Allah swt."

(QS. Az-Zumar 39: Ayat 21)
Musim Salju
ilustrasi musim salju 


Kesimpulan

Dengan banyaknya penemuan dalam bidang sains tentang fenomena di luar angkasa yang selaras dengan keterangan-keterangan dalam Al Qur'an, telah membuktikan secara nyata kebenaran Al-Quran sebagai firman Tuhan Pemilik dan Pengatur alam semesta. Dan, penemuan-penemuan tersebut hanyalah sebagian kecil dari bukti kebenaran Al-Quran. Dan setiap saat, pasti manusia akan mengadakan penelitian-penelitian terbaru baik di bumi atau di luar angkasa. Nantinya, hasil penelitian tersebut akan dicari keterangan ayatnya dalam Al Quran. Atau, sebaliknya, ilmuwan muslim akan mempelajari isi kandungan kitab suci Al-Quran, baru kemudian mengimplementasikan dalam ilmu pengetahuan dan ilmu-ilmu lainnya. Wallohu a'lam bisshowab. 

Tidak ada komentar untuk "Kesamaan AlQuran dan Sains Tentang Pengetahuan Luar Angkasa"