Rukun wudhu dan do'a wudhu, serta syarat sah danhal yang membatalkan

Rukun wudhu dan do'a wudhu, serta syarat sah danhal yang membatalkan

Rukun Wudhu dan Do'anya, Serta Syarat Sah Wudhu dan Pembatalannya
Foto orang sedang berwudhu


     Sebelum melaksanakan ibadah sholat fardhu atau sholat sunnat, umat muslim harus dalam keadaan suci terlebih dulu. Adapun bersuci bisa dilakukan dengan dua cara, yaitu mandi junub (bila memiliki hadats besar) dan wudhu (bila hadats kecil). Tidak hanya sholat, mau memegang Al Quran pun harus dalam keadaan suci. Sebagaimana yang dijelaskan dalam Al Qur'an surat Al Maidah ayat 6

Allah SWT berfirman:

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اِذَا قُمْتُمْ اِلَى الصَّلٰوةِ فَاغْسِلُوْا وُجُوْهَكُمْ وَاَيْدِيَكُمْ اِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوْا بِرُءُوْسِكُمْ وَاَرْجُلَكُمْ اِلَى الْـكَعْبَيْنِ ۗ وَاِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوْا ۗ وَاِنْ كُنْتُمْ مَّرْضٰۤى اَوْ عَلٰى سَفَرٍ اَوْ جَآءَ اَحَدٌ مِّنْكُمْ مِّنَ الْغَآئِطِ اَوْ لٰمَسْتُمُ النِّسَآءَ فَلَمْ تَجِدُوْا مَآءً فَتَيَمَّمُوْا صَعِيْدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوْا بِوُجُوْهِكُمْ وَاَيْدِيْكُمْ مِّنْهُ ۗ مَا يُرِيْدُ اللّٰهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِّنْ حَرَجٍ وَّلٰـكِنْ يُّرِيْدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَ لِيُتِمَّ نِعْمَتَهٗ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ

"Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu hendak melaksanakan sholat, maka basuhlah wajahmu dan tanganmu sampai ke siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kedua kakimu sampai ke kedua mata kaki. Jika kamu junub, maka mandilah. Dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, maka jika kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan debu yang baik (suci); usaplah wajahmu dan tanganmu dengan (debu) itu. Allah tidak ingin menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, agar kamu bersyukur." (QS. Al-Ma'idah 5: Ayat 6)

Dan juga dijelaskan dalam hadits Rasulullah SAW bersabda : 

لا يمس القرآن إلا طاهر

“Tidak boleh menyentuh Alquran kecuali orang yang suci”. (HR. Abu Dawud)

Rukun wudhu dan bacaan do'a anggota wudhu

     Rukun wudhu menurut istilah adalah bagian atau langkah-langkah yang harus dilakukan ketika mengerjakan wudhu. Sedangkan wudhu adalah suatu usaha untuk mensucikan diri dari hadats kecil yang tata caranya sesuai syariat dalam Al Quran dan Hadits Nabi. Menurut ilmu fiqih, yaitu ilmu yang membahas ajaran-ajaran agama Islam dan hukum-hukumnya, menerangkan bahwa seorang muslim dianggap sah wudhunya bila prakteknya sesuai dan memenuhi syarat dan rukun wudhu. Rukun wudhu ini aturannya sama sejak zaman Rosulullah sampai sekarang tidak ada perubahan. Karena, bila rukun wudhu ini diubah urutannya ataupun aturannya, maka tidak sah wudhunya dan bila melaksanakan sholat menjadi tidak sah pula sholatnya. Hanya saja, para ulama mazhab yaitu Imam Maliki, Imam Hanafi, Imam Syafi'i dan Imam Hambali ada sedikit perbedaan dari caranya saja. Dan perbedaan tersebut tidak menjadikan wudhu menjadi tidak sah karena ada dasarnya yaitu hadits dan sunnah Nabi SAW yang diriwayatkan oleh para Sahabat, Tabi'in dan seterusnya sampai dibukukan dalam kitab oleh para ulama. Berikut ini adalah rukun wudhu yang berjumlah enam, serta do'anya:

1. Niat wudhu

     Rukun wudhu yang pertama adalah membaca niat. Niat ini boleh diucapkan dengan lisan (mulut), boleh juga diucapkan dalam hati. Selanjutnya, niat bisa menggunakan bahasa Arab, bisa juga memakai bahasa yang dipahami. Kalimat niat ini dibaca ketika membasuh muka, yaitu pada basuhan yang pertama. Lafaznya adalah :

نَوَيْتُ اْلوُضُوْءَ لِرَفْعِ اْلحَدَثِ اْلأَصْغَرِ فَرْضًا لِلّهِ تَعَالَى

Nawaitul wudhu’a li raf’il hadatsil ashghari fardhan lillahi ta’ala

"Aku niat berwudu untuk mengangkat hadas kecil fardu karena Allah Ta’ala."

2. Membasuh muka

     Cara membasuh muka untuk orang yang normal kedua belah tangannya adalah dengan menampung air di kedua telapak tangan, kemudian dimasukkan ke sekitar wajah yang meliputi, kedua pipi, mulut, dagu, hidung, area mata dan kening. Rukun membasuh muka ini dilakukan sebanyak tiga kali. Dan basuhan pertama dibarengi membaca niat wudu dalam hati.

3. Membasuh kedua tangan serta siku

     Rukun wudlu berikutnya adalah dengan membasuh atau mengalirkan air dari ujung jari sampai siku. Disunahkan melebihi siku, karena dikhawatirkan kurang dari sikut bisa membuat tidak sempurna wudhunya. Karena itu, lebih baik dilebihkan saja dari siku. Dalam membasuh lengan ini lakukan sebelah-sebelah. Yaitu, lengan kanan dulu 3 × sambil digosok-gosok supaya bersih dari kotoran, selanjutnya tangan sebelah kiri 3 × basuhan juga.

4. Menyapu sebagian kepala

     Selanjutnya adalah dengan menyapu sebagian kepala sebanyak tiga kali. Ulama berbeda pendapat tentang cara mengusapnya. Ada yang mengatakan boleh/sah dengan membasahi rambut saja, boleh sedikit atau seluruh rambut. Ada juga yang mengajarkan dengan membasuh rambut dimulai dari bagian depan, disapukan ke dalam belakang, kemudian kembali lagi kedepan menggunakan kedua tangan. Sebagaimana dijelaskan dalam hadits berikut ini: 

Dari Humran bekas budak ‘Utsman bin ‘Affan Radhiyallahu anhu :

 أَنَّ عُثْمَانَ دَعَا بِوَضُوْءٍ فَتَوَضَّأَ: فَغَسَلَ كَفَّيْهِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ، ثُمَّ مَضْمَضَ وَاسْتَنْثَرَ، ثُمَّ غَسَلَ وَجْهَهُ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ، ثُمَّ غَسَلَ يَدَهُ الْيُمْنَى إِلَى الْمِرْفَقِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ، ثُمَّ غَسَلَ يَدَهُ الْيُسْرَى مِثْلَ ذلِكَ، ثُمَّ مَسَحَ رَأْسَهُ، ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَهُ الْيُمْنَى إِلَى الْكَعْبَيْنِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ، ثُمَّ غَسَلَ الْيُسْرَى مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ قَالَ: رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَوَضَّأَ نَحْوَ وُضُوْئِ هذَا ثُمَّ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَنْ تَوَضَّأَ نَحْوَ وُضُوْئِ هَذَا ثُمَّ قَامَ فَرَكَعَ رَكْعَتَيْنِ لاَ يُحَدِّثُ فِيْهِمَا نَفْسَهُ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ. 

“‘Utsman bin ‘Affan Radhiyallahu anhu minta diambilkan air wudhu lalu berwudhu. Dia basuh kedua telapak tangannya tiga kali. Kemudian berkumur-kumur dan menghirup air ke hidung lalu mengeluarkannya. Lalu membasuh wajahnya tiga kali, kemudian membasuh tangan kanannya hingga ke siku tiga kali, begitupula dengan tangan kirinya. Setelah itu, ia usap kepalanya lantas membasuh kaki kanannya hingga ke mata kaki tiga kali, begitupula dengan kaki kirinya. Dia kemudian berkata, ‘Aku pernah melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berwudhu sebagaimana wudhuku ini, kemudian Rasulullah bersabda, ‘Barangsiapa berwudhu seperti wudhuku ini, kemudian shalat dua raka’at dan tidak berkata-kata dalam hati [1] dalam kedua raka’at tadi, maka diampunilah dosa-dosanya yang telah lalu.’”

5. Membasuh kedua kaki sampai mata kaki

     Selanjutnya ialah membasuh/mencuci kedua kaki sampai mata kaki. Disunnahkan untuk kelebihannya, yaitu diatas mata kaki. Caranya dengan mengalirkan air sambil digosok sela-sela jari kaki. Lakukan dari yang kanan sebanyak tiga kali cucian, kemudian sebelah kiri tiga kali cucian juga.

6. Tertib

     Rukun wudhu terakhir adalah tertib. Makna dari tertib adalah wajib mengerjakan rukun tersebut secara berurutan seperti diatas. Jadi, tidak boleh seenaknya misalkan mencuci kaki dahulu baru mencuci tangan. Karena akan otomatis tidak dianggap wudhu/tidak sah karena tidak sesuai aturan/urutan (tidak tertib).

Hal yang membatalkan wudhu dan larangan bagi orang yang batal wudhu

     Bila kita telah selesai menunaikan wudhu, kemudian 4 hal berikut ini, maka wudunya menjadi batal. Artinya, bila mau mengerjakan sholat atau menyentuh Al Quran harus berwudhu lagi. Keempat penyebab batalnya wudlu adalah sebagai berikut:

  • Keluar sesuatu dari qubul (kemaluan) seperti air kencing, haid, nifas, kecuali air mani. Dan keluar sesuatu dari dubur, misalnya kentut, atau buang air besar.
  • Hilang akal, misalnya tidur atau pingsan.
  • Bersentuhan kulit antara laki-laki dengan perempuan yang bukan muhrim tanpa ada halangan seperti kain baju, jaket dan sebagainya.
  • Menyentuh qubul atau dubur tanpa ada penghalang misalnya kain atau sarung tangan.

Larangan bagi yang batal wudhu

     Bagi orang yang tidak mempunyai wudhu karena batal atau sedang memiliki hadats kecil, dilarang melakukan ibadah berikut ini: 

  1. Shalat fardhu ataupun sholat sunnah
  2. Thowaf (keliling kabah tujuh kali ketika umroh atau haji)
  3. Menyentuh kitab suci Alquran
  4. Membawa atau mengangkat Alquran

Syarat sah wudhu

     Syarat wudhu berbeda dengan rukun wudhu. Bila rukun merupakan langkah-langkah yang harus dilakukan sehingga pekerjaan itu disebut wudhu. Sedangkan syarat sah adalah hal-hal diluar rukun wudhu yang berhubungan dengan orang yang melakukan wudhu, kondisi air dan pelaksanaannya. Menurut ulama ahli fikih mengatakan bahwa syarat sah wudhu ada sepuluh. Bila salah satunya tidak ada, maka wudhunya dianggap tidak sah, dan tentu saja tidak dibolehkan mengerjakan ibadah seperti sholat, thowaf atau memegang Al Qur'an. Adapun syarat sah wudhu adalah sebagai berikut:

  1. Islam. Orang yang non muslim meskipun mengerjakan rukun wudhu tetap saja tidak sah. Sehingga tidak boleh menyentuh Al Qur'an.
  2. Tamyiz, yaitu anak yang sudah bisa membedakan benar dan salah, biasanya anak yang berumur sekitar 6 sampai 7 tahun
  3. Suci dari haid dan nifas untuk wanita.
  4. Tidak ada yang menghalangi air mengenai bagian-bagian yang disebutkan dalam rukun wudhu.
  5. Bersih anggota wudhunya dari apa saja yang bisa mengubah keaslian air. Seperti masih ada bekas make up, cat, dan lain-lain. Kecuali dalam kondisi darurat, misalnya tangan yang diperban atau antiseptik karena terluka.
  6. Mengetahui rukun wudhu
  7. Tidak mengi'tikadkan salah satu fardhu wudhu yang enam tersebut hukumnya sunnah. Andaikan anda melaksanakan beberapa sunnah wudhu, anda tetap meyakini bahwa fardhu wudhu hanya enam.
  8. Menggunakan air yang suci dan mensucikan, seperti air sumur, air sungai, air laut dan air hujan.
  9. Masuk waktu sholat
  10. Muwalah (berturut-turut), artinya mengerjakan rukun wudhu di waktu itu saja. Jadi, tidak sah wudhu misalnya membasuh muka, kemudian diam dulu selama 5 menit, kemudian dilanjutkan membasuh kedua tangan.

Hal-hal yang disunahkan sebelum dan sesudah wudhu

     Selain fardu/rukun wudhu dan syarat sah wudhu, terdapat juga perbuatan sunnah yang bisa dilakukan ketika berwudu. Sunnat adalah perbuatan atau ucapan yang bila dikerjakan maka akan mendapatkan pahala, tapi bila tidak dikerjakan tidak berdosa. Sunnah dalam berwudlu ini sudah ada sejak zaman Nabi dan para sahabat. Adapun ritual sunat ketika wudhu antara lain:

1. Bersiwak atau membersihkan sekitar mulut, boleh menggunakan siwak atau juga menyikat gigi. Hal ini dilakukan agar tidak ada sisa-sisa makanan di mulut yang kemungkinan bisa mengganggu ibadah sholat.

2. Membaca doa sebelum wudu, yaitu: 

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ. رَّبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِينِ. وَأَعُوْذُ بِكَ رَبِّ أَنْ يَحْضُرُوْنَ

Bismillahirrahmanirrahim. Rabbi a’udzubika min hamazatisy syayatin wa a’udzubika robbi an yahdhurun.

"Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Ya Tuhanku aku berlindung kepada-Mu dari bisikan-bisikan setan. Dan aku berlindung pada-Mu dari kedatangan mereka padaku."

Rasulullah Saw bersabda,

“Tidak ada salat bagi orang yang tidak memiliki wudhu, dan tidak ada wudhu bagi orang yang tidak menyebut nama Allah SWT.” (HR Tirmidzi dan Ibnu Majah)

3. Membaca doa ketika menyentuh air dengan lafal sebagai berikut:

الحَمْدُ لِلّهِ الَّذِي جَعَلَ المَاءَ طَهُوْرًا

Alhamdulillahiladzi ja’alal maa a thahuura

Segala puji bagi Allah yang menjadikan air ini suci."

4. Membasuh/membersihkan kedua telapak tangan tiga kali sambil berdoa:

اللَّهُمَّ إِنِّي أّسْأَلُكَ اليُمْنَ وَالبَرَكَةَ وَأَعُوْذُ بِكَ مِنَ الشُّؤْمِ وَالهَلَكَةِ

Allahumma inni as-alukal yumna wal barakata wa a’udzubika minas syu-mi walhalakah

"Ya Allah aku memohon kepada-Mu keberuntungan dan keberkahan, dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukan dan kerusakan."

5. Berkumur sebanyak tiga kali sambil membaca doa: 

اللَّهُمَّ أَعِنِّيْ عَلَى تِلاَوَةِ كِتَابِكَ وَكَثْرَةِ الذِّكْرِ لَكَ

Allahumma a’inni ‘alaa tilaawati kitaabika wa katsratidz dzikri laka

"Ya Allah bantulah aku untuk membaca kitab-Mu dan memperbanyak zikir kepada-Mu."

6. Memasukkan air ke hidung (Istinsyaq) tiga kali disertai membaca doa: 

اللَّهُمَّ أَرِحْنِيْ رَائِحَةَالجَنَّةِ وَأَنْتَ عَنِّي رَاضٍ

Allahumma arihni raaihatal jannati wa anta ‘anni rhadin

"Ya Allah Semoga Engkau menciumkan aku wangi surga dan semoga Engkau rida kepadaku."

7. Membaca doa ketika membasuh wajah, yaitu:

اللَّهُمَّ بَيِّضْ وَجْهِيْ بِنُورِكَ يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوْهُ أَوْلِيَائِكَ، وَلاَ تُسَوِّدْ وَجْهِي بِظُلُمَاتِكَ يَومَ تَسْوَدُّ وُجُوهُ أَعْدَائِكَ 

Allahumma bayyidh wajhii binuurika yauma tabyadhu wujuuhu auliyaaika, wa laa tusawwid wajhi bi dzhulumaatika yauma taswaddu wujuuhu a’daa-ika

"Ya Allah putihkanlah wajahku dengan cahaya-Mu di hari memutihnya wajah para wali-Mu. Janganlah Engkau hitamkan wajahku dengan kegelapan-Mu di hari menghitamnya wajah musuh-musuh-Mu."

8. Membaca doa ketika membasuh kedua tangan sampai siku dengan do'a ketika membasuh tangan kanan

اللَّهُمَّ أَعْطِني كِتَابِي بِيَمِيْنِيْ وَحَاسِبْنِي حِسَابًا يَسِيْرَا

Allahumma a’thini kitaabi biyamiini wa haasibnii hisaaban yasiiran

"Ya Allah berikanlah catatan (amal) ku melalui tangan kananku dan hisablah aku dengan hisab yang mudah."

Ketika membasuh tangan kiri bacalah doa:

اللَّهُمَّ إِنَّي أَعُوذُ بِكَ أَنَ تُعْطِيَنِي كِتَابِي بِشِمَالِي أَوْ مِنْ وَرَاءِ ظَهْرِيْ

Allahumma inni a’udzubika an tu’tiyani kitaabi bi syimaali au min waraa-a dzahri

"Ya Allah aku berlindung kepadamu dari pemberian-Mu terhadap kitabku dengan tangan kiriku atau dari belakang punggungku."

9. Membaca do'a sambil mengusapkan air ke kepala. Caranya ialah dengan membasahi kedua tangan dengan air, kemudian tempelkan jari-jari di depan kepala, sedangkan jempol menyentuh bagian telinga. Kemudian dorong kedua tangan perlahan sampai tengkuk. Lalu tarik lagi jari-jari tersebut kedepan kepala, sebanyak tiga kali disertai membaca doa:

اللَّهُمَّ غَشَّنِيْ بِرَحْمَتِكَ، وَأَنْزِلْ عَلَيَّ مِنْ بَرَكَا تِكَ، وَأَظِلَّنِيْ تَحْتَ ظِلِّ عَرْشِكَ، يَوْمَ لا ظِلَّ إِلا ظِلَّكَ. اللَّهُمَّ حَرِّمْ شَعْرِي وَبَشَريْ عَلَى النَّارِ

Allahumma ghasyini birahmatika, wa anzil ‘alayya min barakaatika, wa adzhillani tahta dzhilli ‘arsyika, yauma laa dzhilla illa dzhillaka. Allahumma harrim sya’ri wa basyari ‘alan naar

"Ya Allah limpahkanlah aku dengan rahmatmu, turunkanlah keberkahan-Mu kepadaku. Dan naungilah aku di bawah naungan-Mu di hari tiada naungan kecuali naungan-Mu. Ya Allah hramkanlah rambut dan kulitku dari api neraka. Haramkanlah rambutku dan kulitku dari neraka, dan naungilah aku di bawah Arys-Mu pada hari tidak ada naungan kecuali naungan-Mu."

10. Membasuh/membersihkan kedua telinga sambil membaca do'a: 

اللّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنَ الَّذِيْنَ يَسْتَمِعُوْنَ القَوْلَ فَيَتَّبِعُوْنَ أَحْسَنَهُ، اللَّهُمَّ أَسْمِعْنِي مُنَادِيَ الجَنَّةِ فِيْ الجَنَّةِ مَعَ الأ بْرارِ

Allahummaj’alni minal ladzina yastami’uunal qaula fa yattabi’una ahsanah. Allahumma asmi’ni munaadiyal jannati fil jannati ma’al abraar

"Ya Allah jadikanlah termasuk dari orang-orang yang mendengarkan perkataan dan mengikuti yang baik darinya. Ya Allah perdengarkanlah aku panggilan surga di surga nanti bersama orang-orang saleh."

11. Membasuh tengkuk/leher bagian belakang sambil berdo'a:

اللَّهُمَّ فُكَّ رَقَبَتِي مِنَ النَّارِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ السَلاَسِلِ وَالأَغْلاَلَ

Allahumma fukka raqabati minan naar, wa a’udzubika minas salaasili wal aghlaal

"Ya Allah lepaskanlah leherku dari api neraka dan aku berlindung kepada-Mu dari rantai."

12. Membaca do'a saat membasuh kaki kanan, yaitu:

اللَّهُمَّ ثَبِّتْ قَدَمَيَّ عَلَى الصَّرَاطِ المُسْتَقيمِ مَعَ أَقْدَامِ عِبَادِكَ الصَالِحِيْن

Allahumma tsabbit qadamayya ‘alash shiraathil mustaqiima ma’a aqdaami ‘ibaadikas shalihin

“Ya Allah tetapkanlah kedua telapak kakiku di atas shiratal mustaqim (jembatan yang lurus) bersama telapak kaki hamba-hamba-Mu yang salih."

Ketika membasuh kaki kiri bacalah doa:

اللَّهُمَّ إِنَّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ تَزِلُّ قَدَمِي عَلَى الصَّرَاطِ فِي النَّارِ يَوْمَ تَزِلُ أَقْدَامُ المنَافِقيْنَ والمُشْرِكِيْن

Allahumma inni a’udzubika an tazillu qadami ‘alas shiraathi fin naari yauma tazillu aqdaamil munaafiqiina wal musyrikiin

"Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari jatuhnya telapak kakiku di atas shirat (jembatan) ke dalam api neraka di hari jatuhnya telapak kaki orang-orang munafik dan musyrik."

13. Membaca doa setelah wudlu yaitu sebagai berikut:

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلأَ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدَا عَبْدُهُ وَرَسُوْلهُ, سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ, أَ شْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلأَ أَنْتَ, عَمِلْتُ سُوْءً وَظَلَمْتُ نَفْسِيْ, أسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ, فَاغْفِرْ لي وَتُبْ عَلَيَّ, إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَابُ الرَّحِيْم, اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنَ التَّوَّابِيْنَ, وَاجَعَلْنِي مِنَ المُتَطَهِرِينْ, وَاجَعَلْنِي مِنْ عِبَادِكَ الصَّالِحِينْ, وَاجَعَلْنِي صَبُوراً شَكُوراً, وَاجَعَلْنِي أَذْكُرُكَ ذِكراً كَثِيراً, وَأُسَبِّحُكَ بُكرةَ وَأصِيلاَ

Asyhadu an laa ilaaha illallah wahdahu laa syariika lahu wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuuluhu. Subhanaka Allahumma wa bihamdika, asyhadu an laailaaha illa anta, ‘alimta suu-an wa dzalamtu nafsi, astaghfiruka wa atuubuh ilaika, faghfirli wa tub ‘alayya. Innaka antat tawwaabur rahim. Allahummaj’alnii minat tawwaabiina waj’alni minal mutathahhiriin, waj’alni min ‘ibaadikas shaalihin, waj’alni shaburran syakuuran, waj’alni adzkuruka dzikran katsiran wa usabbihuka bukratan wa ashiila.

"Aku bersaksi bahwasanya tiada tuhan selain Allah Yang Satu, tiada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan rasul-Nya. Maha suci Enggau Ya Allah dengan pujianmu. Aku bersaksi bahwasanya tiada tuhan selain Engkau. Engkau mengetahui keburukan dan kezaliman diriku. Aku memohon ampunan dan bertaubat kepada-Mu, maka maafkan dan ampunilah aku. Sesungguhnya engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Ya Allah jadikanlah aku bagian dari orang-orang yang bertaubat dan jadikanlah aku bagian dari orang-orang yang mensucikan diri. Jadikanlah aku bagian dari hamba-hamba-Mu yang saleh, jadikanlah aku sabar dan bersyukur, dan buatlah aku senantiasa berzikir kepadamu dengan zikir yang banyak, serta bertasbih kepada-Mu setiap pagi dan petang."

Kesimpulan

     Setiap muslim memiliki kewajiban untuk melaksanakan ibadah sholat dengan terlebih dahulu memenuhi syarat-syaratnya. Diantaranya, suci dari hadats kecil dan hadats besar. Khusus untuk hadats kecil bisa disucikan dengan cara berwudhu yang tentu saja wudhu yang memenuhi rukun dan syarat sah wudhu. Bila tidak sah wudhunya menurut kaidah ilmu fiqh, maka tidak sah pula sholatnya. Selain sebagai syarat sebelum melakukan sholat, Rosulullah SAW menganjurkan juga agar muslim bisa 'dawam' dalam keadaan wudhu setiap saat. Karena jika sewaktu-waktu dia diwafatkan kemudian dalam keadaan wudhu, maka insya Allah orang tersebut matinya husnul khotimah dan menjadi ahli surga. Wallohu a'lam.

Anda bisa melihat tutorial cara berwudhu dan doanya pada video youtube berikut ini  :


Tidak ada komentar untuk "Rukun wudhu dan do'a wudhu, serta syarat sah danhal yang membatalkan"